Media massa dalam pemberitaan Covid-19 : bagaimana Pemikiran Michel Foucault Melihatnya ?


Sebelum membahas mengenai pemikiran nya mari kita mengenal tentang Michel foucault terlebih dahulu, Paul-Michel Foucault (lahir di Poitiers, 15 Oktober 1926 – meninggal di Paris, 25 Juni 1984 pada umur 57 tahun) atau lebih dikenal sebagai Michel Foucault adalah seorang filsuf Prancis, sejarawan ide, ahli teori sosial, ahli bahasa dan kritikus sastra. Teori-teorinya membahas hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan, dan bagaimana mereka digunakan untuk membentuk kontrol sosial melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan, terutama penjara dan rumah sakit. Meskipun sering disebut sebagai pemikir post-strukturalis dan postmodernis, Foucault menolak label-label ini dan lebih memilih untuk menyajikan pemikirannya sebagai sejarah kritis modernitas. Pemikirannya telah sangat berpengaruh bagi kedua kelompok akademik dan aktivis.
2 Maret 2020 yang lalu Indonesia telah menjadi salah satu negara yang positif Covid-19. Awal munculnya Covid-19 ini di kota Wuhan China dan meluas ke banyak negara. Covid-19 ini telah menjadi pandemik dan isu global, Di negara kita angka yang positif corona semakin hari semakin bertambah , pandemik ini tidak memiliki kepastian kapan akan berakhir. Oleh karena itu kita harus berhati- hati karena siapa saja rentan tertular Covid 19 ini.
perkembangan teknologi dan informasi yang masif telah memproduksi relasi sosial masyarakat modern menjadi relasi yang bersifat fungsional dan rasional. Revolusi teknologi informasi menjadi satu fenomena yang sangat umum terjadi,karena menghasilkan berbagai perubahan dan pergeseran pada relasi sosial antar individu dalam masyarakat. Semua orang dapat memproduksi berita dan menyebarkan informasi dengan begitu cepat melalui sarana komunikasi lintas kelas, lintas agama, lintas gender, lintas usia, lintas etnik suku dan lintas kebangsaan. Informasi yang disebar dapat berupa berita tentang suatu peristiwa, kejadian dan segala permasalahan yang dihadapi manusia setiap hari, ada berita yang benar-benar merupakan fakta tapi ada juga berita hoax yang secara sengaja dibuat untuk mengajukan keadaan.pemerintah menghadapi perubahan sosial yang sangat cepat,perubahan dalam penyebaran informasi yang makin bebas dan melibatkan hampir semua warga negara, informasi tidak lagi di monopoli oleh pemilik media mainstream, tetapi telah menyebar secara luas ke seluruh masyarakat (Jurdi,2017: 255).
Pemerintah memusatkan pemberitaan Covid-19 ini, hal ini dapat kita pahami dengan pemikiran Michel Foucault melalui hubungan konseptual akan pengetahuan (Knowledge) dan kekuatan (Power) . Foucault meyakini bahwa siapapun yang berkuasa memiliki kemampuan untuk menciptakan wacana dominan melalui praktek-praktek diskursif serta wujud-wujud kekuasaan sebagai kebenaran. The theory of truth merupakan pemikiran cemerlang Foucault untuk menggambarkan eksplorasi praktek diskursif penguasa dalam membentuk kebenaran. Dalam konteks inilah sesungguhnya media dapat diletakkan sebagai  man of desire yang memiliki kekuasaan memproduksi kebenaran melalui wacana yang disajikannya ( M.Faucalt,2017).
Kritik Foucault terhadap Teori kuasa yaitu:  Teori kedaulatan yang menempatkan kuasa dan pengetahuan dalam satu relasi yang tidak saling berhubungan satu sama lain. Pengetahuan diasosiasikan bukan dengan kuasa (power), melainkan dengan rasio. Pemisahan ini menurut Foucault menyembunyikan keterlibatan dari kuasa karena kuasa saat ini memasuki semua aspek kehidupan sosial. Pengetahuan dipahami sebagai instrumen sekaligus efek dari kuasa. (Jurdi,2017 : 259).
Faucault menampilkan suatu perspektif kekuasaan secara baru, menurut Faucault kekuasaan bukanlah hanya sesuatu yang dikuasai oleh negara, sesuatu yang dapat diukur. Kekuasaan bagi foucault ada di mana-mana. Karena kekuasaan merupakan satu dimensi dari relasi. Artinya di mana ada relasi di sana ada kekuasaan. Disinilah letak kekhasan foucault, dia tidak menguraikan Apa itu kuasa, Tetapi bagaimana kuasa itu berfungsi pada bidang tertentu.
Kekuasaan merupakan suatu hal yang menarik yang tidak selesai untuk dibahas. Hal ini dimulai sejak zaman Yunani kuno dan telah berlangsung sampai zaman ini. Para filsuf klasik telah mengaitkan kekuasaan dengan kebaikan, kebajikan, keadilan, dan kebebasan para pemikir dan religius selalu menghubungkan kekuasaan itu dengan Tuhan. Michel Foucault adalah salah seorang filsuf pelopor strukturalisme yang berbicara tentang kekuasaan. Foucault menilai bahwa filsafat politik tradisional selalu berorientasi pada soal legitimasi. Menurut foucault kekuasaan adalah suatu dimensi dari relasi. Dan menurut pendapat foucault kehendak untuk kebenaran sama dengan kehendak untuk berkuasa.
Menurut Foucault dalam bukunya power/Knowledge , nilai nilai tertinggi atau kebenaran berasal dari episteme , yaitu keseluruhan pola berpikir dengan sistem wacana yang digunakan. Jadi kebenaran terjalin secara intrinsik dalam relasi antara wacana yang digunakan manusia  untuk mengungkapkan kebenaran itu, sistem kekuasaan yang berlaku, dan kedudukan subjek-subjek yang terlibat(M.Faucalt,2017). Bagi Foucault kekuasaan yang memproduksi pengetahuan
Selama Covid-19 telah merebak di Indonesia , semua media massa, baik cetak, elektronik, maupun media online ramai memberitakan Covid-19 dengan versi dan sumber yang berbeda. Baik informasi yang valid maupun yang hoax, sehingga masyarakat menjadi cemas dan tenang sangat diperlukan oleh media.
Sejauh ini, banyak yang menilai jika pemerintah terkesan menutup informasi yang sebenarnya tentang Covid-19 ini, pemerintah dinilai tidak transparansi dalam memberikan pemberitaan mengenai Covid-19 ini. berbeda dengan sistem tranparansi yang diterapkan di Singapura, di mana yang dinyatakan positif Covid-19 itu diumumkan kepada publik sehingga orang yang merasa pernah kontak dengan yang bersangkutan datang ke rumah sakit melakukan pengecekan diri.
 hal itu tidak dilakukan di Indonesia, contohnya saat menyebut suspek 01 atau 02 pada kali pertama diumumkan di Indonesia, sehingga publik tidak tahu dia siapa, tinggalnya di mana dan pernah berpergian ke mana saja sehingga membuat masyarakat was-was.
"Menurut saya sistem pengelolaan informasi seperti ini memang ada untung-ruginya. Tetapi kalau identifikasi terhadap suspeknya itu ditutup yang terjadi adalah munculnya hoax, kepanikan dan seterusnya. Tapi kalau informasinya dibuka, kemudian kesempatan untuk rapid test itu dibuka seluas-luasnya, orang tentu akan lebih tenang,” .
Hoax itu harus dibantah dengan menanyai sumber-sumber resmi seperti pemerintah dan pihak terkait. Sejauh ini hoax terkait Covid-19 ini sudah sangat banyak. Masyarakat Indonesia sendiri ragu dengan kapabiltas pemerintah pusat. Apalagi, pemerintah dinilai tidak melakukan koordinasi yang efektif atas penanganan virus ini.
Belum lagi, dugaan-dugaan kapabilitas dari dunia internasional bisa juga membuat pemerintah malah dianggap tidak memiliki pengetahuan (knowledge) tentang penyebaran virus Covid-19. Beberapa pihak menganggap pemerintah Indonesia tidak memiliki peralatan yang cukup untuk mendeteksi penularan.
Keraguan ini diperparah dengan penanganan kasus di lapangan yang dipandang tidak memadai: mulai dari lemahnya perlindungan data pribadi korban, buruknya komunikasi publik, hingga minimnya kesiapan teknis dan medis mulai dari alat test, APD, hingga kapasitas rumah sakit dan mekanisme pendataan kontak (contact tracing).
Respons pemerintah Indonesia sejauh ini memprihatinkan dan mengkhawatirkan bagi masyarakat Indonesia dan dunia, termasuk ketidaksiapan dalam hal penyediaan fasilitas dan layanan kesehatan, infrastruktur dan kelembagaan yang sentralistik dan birokratis sehingga tidak mendukung kerja cepat dan tepat. Demikian juga dengan minim dan lambatnya pendeteksian akibat kebijakan yang sentralistik, birokratis, kegagalan komunikasi publik dan kurangnya transparansi. Kurangnya peran dan keterlibatan pemerintah daerah, swasta dan masyarakat adalah juga bagian dari kelemahan mendasar dari respon pemerintah. Pernyataan-pernyataan para pejabat yang simpang siur menciptakan kesan ketidakseriusan, miskin empati dan sense of crisis, yang justru kontraproduktif bagi upaya penghentian penyebaran virus.
Singkatnya, kapabilitas pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 ini sungguh dipertanyakan.


Referensi :

Jurdi, Syarifuddin (2017, Desember) Politik Islam Profetik : Saintifikasi Islam, Islamisasi Ilmu dan Integrasi Keilmuan , Laboratorium Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar kampus 2 UIN Jl.Sultan Alauddin No.36 Samata Gowa

Faucault, michel (2017), Power/Knowledge (Wacana kekuasaan dan pengetahuan)



Komentar